Tuesday, August 31, 2010

escape because of you (part 2)


Orang gila berkata kalau dia tidak gila. Baginya yang gila itu adalah mereka yang mengatakan dia gila. Bagi mereka sudah jelas-jelas dia yang gila karena mereka tidak gila. Untuk apa semua itu? Hanya mencari sebuah pengakuan dan status belaka agar punya tempat di muka bumi ini. Padahal di hadapan Tuhan semua itu sama saja bahkan tak ada artinya.

Di usia 17 tahun saat aku mengalami siklus keakuan yang bergejolak. Mulai mengenal lingkungan yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Berlomba-lomba dalam kata-kata untuk mencari pengakuan dini. Persaingan di sana-sini membuatku berpikir apa itu penting. Rasa ingin mengenal berbagai orang hebat menjadi candu tersendiri dalam diri ini. Yang membuatku heran adalah bagaimana bisa itu semua menguasaiku dalam sesaat?

Banyak yang aku korbankan. Aku tegaskan, ini bukan pengorbanan. Tapi, sensasi yang seolah-olah menjadi pengorbanan yang sia-sia. Sangat tidak berarti. Aku merasa sombong sejagat. Pernah sampai aku merasakan orgasme bagaimana menjadi Tuhan. Aku kutuk Dia sampai aku bosan. Apa peduliku dengan dosa kutuk mengutuk Dia. Dulu, yang aku pikirkan hanya “aku puas” dengan ketinggian pada tebing nafsuku. Santai tak bertepi, santai tak sesaat.

Aku ingat-ingat kembali bahwa saat itu aku sadar dengan semua keputusan. Aku belajar kembali untuk bersujud dan mengadah memohon. Tapi, mengapa hanya sesaat? 3 tahun dalam kepuraan-puraan untuk menyenangkan hati orang dan ingin dianggap hebat. Untuk apa semua itu? Sudah aku katakan, aku sering bermain-main dengan waktu hingga akhirnya menjadi seperti ini.

3 tahun dalam kepuraan-puraan yang aku campur menjadi sebuah pengkhianatan. Aku lakukan itu. Aku mencintai pengkhianatan pada saat itu. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghalangiku dalam pengkhianatan besar atas nama manusia-manusia nafsuku dan juga Dia. Sekali, dua kali, tiga kali, ntah sudah berapa kali, tiada puasnya. Terus dan terus aku lakukan seperti aku menganggap begitulah hidupku yang seharusnya. Bagaimana bisa?

Pengkhianatan!!!
Aku berkhianat!!!
Itu yang aku inginkan, Dunia.

Aku katakan kepada perempuan itu, kira-kira saat itu aku berusia 20 tahun, aku ingin hidupku hancur sehancur-hancurnya. Dia berkata, lakukan saja. Sebelum dia mengatakan begitu, aku sudah melakukannya. Aku menjual diri dalam suara atas nama cinta dan Tuhan. Aku menipu tentang kebutuhan agar aku bisa bersenang-senang. Aku bersandiwara tentang air mata agar aku dibebaskan dari tuduhan. Aku melepaskan semua simbol agar aku bisa berlari terus meninggalkan Tuhan. Sangat menyenangkan.

Usia 21 tahun aku masih enggan meninggalkan pengkhianatan. Aku pikir aku masih ingin merasakannya lagi untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, pikirku, aku tidak bisa lagi merasakan pengkhiantanku yang bertubi-tubi itu lagi. Tuhan pun memberi kesempatan itu kembali dan aku pun tertawa penuh kemenangan.

Aku buntu. Tidak punya lagi tangan-tangan yang ingin memegangiku. Semua sudah tidak peduli dan akhirnya membenciku. Aku dianggap kecil oleh mereka. Seperti titik putih di dinding putih, tak dianggap ada. Aku berlari dalam kesendirianku untuk menghadapi sendiri yang selalu pasti. Aku terus berlari dan berlari hingga saat itu aku benar-benar jatuh.

“Jadilah cerminku walau pecahannya akan melukaiku..”
“Ya..”

Masih di usia 21 tahun, aku membuka pintu yang baru. Pintu yang sudah lama disuguhkan dengan tawaran yang sangat sederhana, melebur. Aku tinggalkan keping-keping luka yang membekas. Aku kumpulkan kembali remah-remah nafas kehidupan, melebur. Dunia itu akhirnya datang. Tapi, Tuhan masih mengujiku dengan kesukaanku yaitu pengkhianatan. Dia merayu dengan semua keindahan dari pengkhianatan. Sempat aku tergoda. Aku katakan kepadanya cukup ini yang terakhir kali aku menjual diriku dalam suara atas nama cinta dan namamu. Aku marah! Aku robek wujudmu yang selalu aku khayalkan. Aku katakan kepadamu kalau aku berhenti mencintaimu!

Kamu diam saja. Aku akhirnya diam juga sepertimu.

Saat aku ingin sembuh, saat itu lah kamu membalas dendammu kepadaku. Kamu kembalikan manusia-manusia itu dalam kehidupanku dengan membawa perbekalan agar bisa membunuhku. Aku tahu cara yang kamu pakai tapi aku tidak bisa lepas dari perangkapmu. Aku menangis, bukan kamu yang mendengarkannya. Aku ingin melepaskan renggutan pelukanmu, justru kamu semakin mencekikku. Aku ingin berlari, kamu menahanku dengan siksa batin. Aku mati rasa, kamu pun senang.

Ego yang sudah membesarkanku datang terus untuk menakut-nakutiku. Darinyalah aku mengalami perselisihan dengan dunia baruku. Dunia yang baru saja melebur dengan duniaku, tiba-tiba saja ingin pergi karena muak dengan sesuatu yang mengasuhku. Aku tidak ingin. Berkali-kali aku menghamba kepada dunia agar aku diberi kesempatan untuk belajar. Awalnya tidak, setelah dia diam akhirnya dunia mengiyakanku. Aku melebur kembali. Aku bernafas kembali. Saat itu aku sudah berusia 22 tahun.

Tiga kali aku lepas dari dunia, tiga kali aku ditariknya kembali, dan sekarang aku sembuh. Melepaskan sakit yang semakin sakit begitu saja. Aku dulu bermain-main dengan waktu. Sekarang aku membutuhkan waktu itu untuk menemaniku menjadi sahabat di kala egoku menggeliat.

Ini tanganku. Ini tangannya. Aku kembali kepada cinta dan juga Tuhan yang seharusnya aku pahami untuk membesarkan aku. Bagaimana bisa malam ini tanpa terasa air mata itu mengalir kembali? Air mata kebahagiaan yang bukan jatuh sendiri tapi ditemani oleh pelukan kasih. Malam ini, di saat aku berusia 22 tahun 9 bulan, aku merasakan sembuh yang meluruh bagai peluh. Aku bebas. Aku bebas. Aku bebas.

“Kebersamaan itu tidak akan pernah mati, Sayang.”




--TAMAT--

No comments:

Post a Comment

Blog Archive