Monday, November 23, 2009

ME OUTSIDE YOU



CALM TO ME




Tidak perlu merasa sakit hati karena tidak diperdulikan sesaat atau beberapa saat. Tidak perlu merasa punya masalah paling berat jika satu hari saja tidak disentuh olehnya. Semua itu bukan apa-apa, kecuali jika dari kemarin kamu memang berharap tanpa mau untuk sedikit pun menoleh kepada mereka yang lain yang bisa tenang ketika mereka tidak diperdulikan dan tidak disentuh.

“Lagi ngapain?”
“Lagi bikin lagu…”
“Owh…” Kemudian tersenyum karena senang melihatnya yang bisa bahagia tanpa harus ada saya di sampingnya…

Dulu, ketika saya masih suka mengaduk-aduk emosi saat melihatnya sibuk sendiri, saya merasa diri begitu dungu. Saya seperti terlalu banyak menuntut.

“…(ngambek!)…”
“…bukan gitu. Tapi, mau bagaimana lagi, udah kayak gini dari sononya!”
“…(masih ngambek! Kemudian kabur!)…”

Hahahaha… lucu saja mengingat itu semua. Sekarang, sedang belajar untuk bisa menerima kekurangan, kritikan, kehilangan, ketidaksukaan dalam bentuk apa pun, dan sebagainya. Saya harus bisa bertahan walaupun disakiti, tapi bukan diam saja.

“Gak mudah lho menghadapi perbedaan. Mesti banyak sabar-sabar!”
“Masak sih?”
“Iya. Saya aja duuuhhh…kalo bukan karena dosa mungkin udah saya bunuh aja tuh orang!”
“Huss!!”

Tapi, memang seperti itu manusia. Mencoba dan terus mencoba untuk tetap bertahan dan menahan. Bertahan akan apa pun yang harus dijalani dan menahan akan apa pun yang tidak boleh dijalani.
Saya mungkin sudah berubah, begitu kata mama saya. Beliau akhirnya memeluk dan mencium saya. Hanya saja masih belum bisa terbaca apa saja yang menjadi pikiran dalam kepala dan perasaan di hati saya.
Jika diizinkan, saya ingin melupakan masa lalu. Saya ingin melupakan semua yang tidak pantas di saya. Tapi, itu semua tidak mungkin. Akhirnya, saya hanya bisa menebusnya dengan tetap berjiwa besar dan mengerti dengan semua ini. Ya, semua ini. Semua yang saya pikir bahwa inilah saatnya saya harus berkorban lagi. Saya mulai dengan memberi lagi. Apa saja yang bisa saya beri. Memberi yang membuat saya akan merasa kehilangan lagi. Hilang akan segala hal. Saya yang ingin dikenang baik. Saya yang ingin dicium penuh tangis saat mati tak kembali.

“Kenapa begitu cepat pergi?”
“………..”
“Maafkan saya…”
“………..”

Saya ingin semuanya baik-baik saja. Bantu saya untuk tetap membuat saya stabil dalam koordinat yang sudah ditentukan. Pikiran, hati dan jiwa saya masih terbang melayang-layang. Saya harus bisa menangkapnya agar tidak menjadi liar seperti dulu. Saya pasti bisa tetap berdamai dengan dunia.
Biarkan saya berjalan di jalan pilihan saya..

Saturday, November 21, 2009

EPITAPH PENYAIR




Dia mencoba bernyanyi, bernyanyi
untuk melupakan
Kenyataan hidupnya yang dusta
dan untuk mengingat
kehidupan dustanya yang nyata.



Oleh: Octavio Paz
Horison, November 2004

Sunday, November 15, 2009

Orang Hilang Ada Orang Pecah
















Ada orang hilang. Tapi ada orang pecah juga. Presiden yang telah membunuh demokrasi, jatuh. Tangan dan lehernya mengeluarkan gergaji. Tapi dewan perwakilan rakyat harus dibuat lagi. Seperti membuat matahari dari daun pisang. Ada orang hilang, kata Tita. Tanah telah memuntahkan tubuhnya kembali. Sepatu tentara berjatuhan dari mulutnya. Ada orang hilang. Gedung parlamen berbau mayat, dapurnya juga berbau mayat. Presiden harus dibuat lagi. Kabinet harus dibuat lagi. Tapi ada orang hilang, kata Tita. Matanya ditutup politik yang terbuat dari gergaji. Tanah muntah. Tak bisa lagi menumbuhkan tanaman. Ada orang pecah. Tanaman muntah. Tak bisa lagi berbuah. Hutan membakar dirinya sendiri, seperti apa di jari-jemari tanganku. Bangunan juga telah membakar dirinya sendiri. Ada orang dibakar, terbakar. Ada orang diperkosa. Ada negeri diperkosa juga. Tanah diperkosa. Tita, ada orang hilang, seperti aku menculik diriku sendiri semalam. Parlemen harus dibuat. Mahasiswa menyerahkan badannya di depan tombol diktaktor. Tapi berbisik-bisik … ada orang hilang. Tema-tema pecah, seperti bayangan negeri ini. Tapi berteriak juga: ada orang hilang! Mayat yang gosong. Kepercayaan yang telah menyimpan mayat. Ada bahasa yang mengancam lehermu. Kepercayaan yang pecah. Ah, apa kabar amerika? Tanah yang pecah juga oleh kekerasan bahasa politik. Anak-anak tak bisa minum susu, tak bisa sekolah. Buku-buku mahal. Padi tak berbuah lagi. Ada gunung meletus. Rakyat harus dibuat. Demo harus dibuat. Ada tempat penyiksaan. Tulang-tulang digali dari lehermu. Pintu parlemen digergaji. Tita, ada orang hilang. Tapi ada orang pecah juga, seperti bayangan negeri ini. Ada matahari, lembut, terbuat dari daun pisang. Kemari. Dengar. Ini negeri untukmu. Jangan begitu memandangku. Aku mayat. Mayat politik. Yang pernah diculik. Di siksa. Jangan menguburku seperti itu, seperti mengubur negeri ini. Jangan. Kemari. Dengar. Ini tanganku. Masih hangat. Seperti pembalut politik yang telah menutup matamu. Kemari. Mari. Masih ada seratus tahun lagi di sini, ini, di tanah ini.


Oleh: Afrizal Malna
1998
Horison, September 2000

Surat dari Sayid Quthub untuk adiknya Aminah Quthub
















Adikku tercinta, tentu saja soal maut itu sudah terbayang di dalam pikiranmu, dan kamu mebayangkan bahwa maut itu ada di segala tempat dan di balik segala benda hidup, kemudian kamu menganggap “maut itu adalah satu kekuatan yang dahsyat” yang melingkari hidup dari kehidupan. Akhirnya kamu menyimpulkan bahwa “hidup ini hanyalah sebuah jembatan gantung, kecil dan sangat lemah yang melintasi jalan menuju maut”. Sepintas lalu ku lihat, ternyata maut itu tidak lebih dari hanya suatu kekuatan kecil yang tidak berdaya dibandingkan dengan kekuatan hidup yang penuh dengan kehidupan ini. Dan hampir dapat dikatakan bahwa maut itu tidak memiliki kekuasaan untuk berbuat sesuatu, melainkan ia hanya bertindak sebagai pengumpul barang-barang pecah yang berserakan di meja kehidupan ini.

CLIFF, APA KABAR?

















































Cliff Klingenhagen





Suatu hari Cliff Klingenhagen mengajakku makan malam dengannya; Setelah memakan sup, daging dan semua yang dihidangkan di sana untuk dimakan, Cliff mengambil dua gelas dan mengisinya yang satu dengan wine dan yang satu lagi dengan wormwood. Kemudian, tanpa menyuruhku untuk memilih, dia langsung meneguk wormwood untuk dirinya, dan langsung mabuk, dia berkata kalau gelas yang satu lagi adalah punyaku.

Ketika aku bertanya kepadanya apa maksud dari semua ini, dia hanya menatapku dan tersenyum, dan berkata beginilah caranya.

Ternyata aku baru tahu, teman-teman, aku bisa menghabiskan waktu yang panjang dan menyenangkan jika aku bisa seperti Cliff Klingenhagen.





By: Edwin Arlington Robinson





Ini adalah sebuah terjemahan puisi dari seorang penyair Amerika bernama Edwin Arlington Robinson yang judulnya “Cliff Klingenhagen”. Saya mencoba menerjemahkannya walau saya yakin mungkin terjemahannya masih kurang pas. Kesan saya pada saat pertama kali membaca puisi ini adalah sungguh sangat “kena banget, gila!”. Saya langsung bisa memvisualisasikan seperti apa gambaran dari puisi tersebut. Saya takjub dengan puisi ini, singkat tapi padat makna.

Puisi ini saya dapat dari dosen saya yang mengajar Kajian Puisi di kelas saya. Pada saat itu beliau memberikan puisi ini untuk final test. Seperti biasa saya dan mahasiswa lainnya disuruh untuk menafsirkan puisi tersebut. Sementara, saya bingung ingin menafsirkan seperti apa. Mungkin seperti ini, tokoh “aku” di situ tidak pernah merasakan yang namanya kebahagiaan. Mungkin bisa dikatakan seperti itu, kebahagiaan. Ya, dia berkata bagaimana dia bisa menghabiskan waktu yang panjang dan menyenangkan. Bukan waktu yang panjang tapi tidak menyenangkan. Dia mencari kebahagiaan, sepertinya. Dia mencari waktu yang tepat, cara yang tepat, untuk bisa membuat dia nyaman. Dan akhirnya dia baru mengetahuinya pada saat dia melihat bagaimana cara Cliff Klingenhagen menyenangkan dirinya sendiri. Cliff punya cara tersendiri yaitu dengan wormwood, lebih tepatnya dia membuat dirinya mabuk.

Nah, tokoh “aku” di sini mungkin bisa memilih dengan cara apa dia bisa menyenangkan dirinya. Saya punya persepsi kalau di dalam puisi ini ada pesan yang tersurat bahwa menyenangkan diri sendiri tidak harus dengan mabuk. “Inilah cara saya”, seseorang pasti selalu berkata seperti itu jika ditanya bagaimana dia membahagiakan dirinya sendiri. Menjadi seorang Cliff Klingenhagen bukan berarti harus mabuk, tapi maknanya adalah “pakailah caramu sendiri untuk membahagiakan diri sendiri, bukan dengan cara orang lain apalagi memaksakan diri untuk menjadi orang lain”. Setiap manusia diciptakan dengan kekhasan masing-masing. Kekhasan itu akan diketahui jika saja kita mau meluangkan sedikit waktu kita untuk mencoba mencintai diri sendiri. Menilik kembali apa yang pantas di kita dan apa yang tidak pantas, mengintip seluk-beluk emosi yang ada di diri kita dengan tetap tenang tanpa harus ada yang terluka, melihat sekeliling untuk bisa belajar seperti ini lah alam berdamai dengan jiwa kita, dan masih banyak lagi.

Setiap manusia punya caranya tersendiri bagaimana membahagiakan dirinya sendiri. Sudah berdamaikah kita dengan jiwa kita sendiri? Kita punya banyak pilihan walau sebenarnya jika ditanya ke saya, saya paling benci untuk disuruh memilih. So, bagaimana cara kamu membahagiakan dirimu sendiri dan berdamai dengan jiwamu? Saya? Hmm…dengan melihat otentik-otentik saya terpajang di rak-rak buku.

Wednesday, November 11, 2009

THIS IS MY SMILE



Dulu, kita pernah belajar untuk tersenyum kepada orang lain. Tapi, saya tidak pernah bisa tersenyum sedikit pun.
Saya ingin tetap tersenyum. Mungkin ntah sampai kapan saya akan tetap tersenyum.