Sunday, April 11, 2010

Susahnya mencari PUTU WIJAYA di Medan


Jum'at lalu, tanggal 9 April 2010.
Saya sedang mengulang cerita setahun yang lalu bersama Romo. Jalan-jalan ke Titi Gantung di Lapangan Merdeka dan mungkin ke tempat lainnya. Dia masih ingat agar saya menunggunya di pom bensin simpang Bilal. Saya menunggu sambil duduk di emperan toko dengan membaca LARUNG yang belum kelar. Setahun yang lalu saya juga duduk di emperan toko ini, tapi membaca komik Detektif Conan. Perasaan saya deg-deg duar!! Seperti setahun yang lalu. Romantisme Realistis.

Kami tiba di Titi Gantung.

Cari buku apa ya, Kak?
Ada Putu Wijaya?
Putu Wijaya? Apa itu kak?
Sastrawan.
Oooohh... Gak ada, Kak. Yang ada putu bambu

Hmm...Bang, ada karya-karyanya Putu Wijaya?
Gak ada. Di sini cuma ada novel-novel yang kayak beginian nih dijual.
Makasih.

Bang, ada Putu Wijaya?
Sebentar, Kak.
(Pergi abang itu, Yank!)

Ini, Kak. Tapi, naskah dramanya.
Novelnya ada?
Oh, gak ada Kak.
Makasih ya.

Ada Putu Wijaya?
Gak ada, kak.

Ada Putu Wijaya?
Gak ada, Kak. Coba tanya di bagian belakang, Kak. Di situ novel semua.

Ada Putu Wijaya, Pak?
Gak ada.

Bu, ada Putu Wijaya?
Oh kamu rupanya yang dari tadi tanya-tanya Putu Wijaya...
Hehehehe...
Gak ada, Nak.

Huff...gak ada Putu Wijayanya. Capek yang ditanya itu-itu saja. Maunya dari tempat parkir tadi saya mengalungkan karton yang bertuliskan "Ada jual karya-karyanya Putu Wijaya?". Tapi, saya belum ingin merasakan malu.

Akhirnya saya tidak membeli satu pun otentik. Sementara Romo membeli MUSASHI dengan harga Rp. 90.000,- , novel Arswendo dan otentik lainnya.
Mengapa susah sekali mencari karya-karya penulis besar seperti Putu Wijaya? Di Gramedia ada beberapa. Tapi, siapa pun juga tahu kalau kita harus membawa banyak recehan untuk bisa membeli di toko tersebut atau menunggu kapan ada spanduk terbentang di beberapa sudut kota Medan tentang Gramedia discount 30%, hehehe...

Saya akan terus mencari..

No comments:

Post a Comment