Mata patung manekin itu menghadap ke arahmu. Matanya seperti sedang menunggu seseorang berharap kepadanya dari jarak dekat. Kali ini dia telanjang di dalam etalase tanpa bisa berbuat apa-apa. Sementara kamu hanya bisa menatapnya begitu saja. Seakan-akan apa yang dia rasakan bukanlah perasaanmu. Aku kasihan melihat dia yang terus berharap kepadamu yang tidak memperdulikannya. Aku pun tidak bisa berbuat banyak untuk dia. Aku tidak tau harus melakukan apa. Akhirnya yang ada hanyalah diam. Memikirkan nasib karena ditelanjangi di dalam etalase dan orang-orang memperhatikan kita bertiga dengan tawa iblis mereka.
Saturday, December 4, 2010
Baiklah, jika saya memang egois.
Ingin bercerita apa? FD saya minta diformat dan saya lupa apa saja isi di dalamnya. Sepertinya tidak ada yang penting dan nanti-nanti saja lah di formatnya."Kakak gak bisa maksa orang untuk suka sama kakak," kata dia.
Kalimat itu terus terngiang walau pada saat itu saya bukan dapat dari mendengar tapi dari membaca message FB saya. Kalimat itu memang ada benarnya. Sangat ada. Ya, memang begitu kalau saya tidak bisa memaksakan orang lain untuk suka sama saya. Sebenarnya bukan maksa, tapi entahlah.
Saya memang tidak suka jika tau ada seseorang tiba-tiba tanpa sebab membenci saya sementara saya merasa tidak ada berbuat salah kepada seseorang tersebut. Posisinya adalah saya tidak tau apa-apa. Belum lagi jika saya tanya "kenapa", jawaban yang didapat bukan "mengapa dia benci saya?" tapi tidak jelas. Saya pikir tidak ada orang yang menginginkan sebuah hubungan itu tidak nyaman kecuali itu memang pilihan sendiri.
Benci menduga-duga. Apakah kalau saya terus bertanya "apa salah saya?" itu menandakan kalau saya egois? Ada yang berpendapat begitu karena saya hanya memikirkan diri saya sendiri tentang "apa salah saya?" yang sudah membuat hubungan menjadi tidak nyaman. Sementara saya dianggap tidak memikirkan perasaan dia yang tiba-tiba membenci saya dan ditambah lagi saya terus bertanya "apa salah saya?". Sikap saya seperti itu dikatakan egois oleh beberapa orang. Benarkah???
Hanya tidak ingin ada salah paham makanya saya bertanya.
Sekarang, saya tau beberapa orang yang tidak menyukai saya tanpa sebab (bagi saya). Sikap saya sekarang, saya akan menganggap semua baik-baik saja walau saya didiamkan sambil terus introspeksi diri karena manusia di dunia ini bukan hanya saya dan kamu saja.
---tak perlu alasan saya mencintai kamu yang membenci saya
Happy Birthday to Me

Dulu, tidak beberapa lama waktu yang lewat, rasanya aku sering tertawa atau mengutuk dalam hati ketika melihat tingkah laku bodoh dan naif para teruna. Aku tertawa dan selalu punya keinginan menunjukkan bahwa mereka tidak harus melewati masa-masa seperti itu. Bahwa seseorang bisa langsung meloncati kebodohan karena banyak pelajaran bisa diambil dari orang lain seperti aku, senior mereka ini.
Aku menyesal pernah punya perasaan seperti itu. Kebodohan ternyata tidak pernah bisa berhenti. Tidak memandang usia. Juga bukan tentang seberapa banyak kepahitan dalam hidup, dan kau merasa bisa mengambil sebanyak itu juga pelajaran darinya. Jenisnya mungkin berbeda-beda, tapi kebodohan tetap kebodohan. Selalu ada pemakluman untuk kebodohan, namun selalu juga ada orang lain yang berkata bahwa kau sebenarnya bisa berbuat lebih dari itu. Ini membuat kita malu. Terlebih kalau yang menunjukkan itu ternyata orang yang lebih muda. Aku melihatnya di wajah mereka. Sungguh menyakitkan karena sekarang giliran mereka yang berkata “harap maklum” tentang kita pada diri mereka sendiri dan teman-temannya. Mungkin mereka tidak protes karena menunggu aku masuk lubang hitam dan tidak muncul lagi. Kenapa sih mereka ini? Apa mereka tidak diajari orang-tuanya tentang satu masa seseorang bisa jadi ngaco dan kurang bertanggung jawab omongan dan perbuatannya tapi sebenarnya sedang pasang ancang-ancang untuk masuk ke dunia yang lebih berat lagi? Entah akhirnya bisa jalan dengan tegap atau hanya ancang-ancang terus, itu urusan lain lagi. Yah, aku juga tidak pernah diajari seperti itu sih. Aku hanya kesal saja.
"Ku rasa kebenaran itu selalu sederhana," kata Sheriff Bell di No Country For Old Man. "Pasti begitu. Kebenaran memang harus sederhana sehingga seorang anak pun akan bisa mengerti. Jika tidak, semuanya akan terlambat. Saat kita mulai memahami semua akan terlambat." Gagah sekali kata-katanya, ya? Aku tersindir karena rasanya telah menyiakan banyak waktu untuk belajar. Tiba-tiba usiaku sudah 24 saja. Aku coba hentikan waktu dengan masker dan mulai sering pakai t-shirt supaya tak kalah saing dengan mahasiswa baru, tapi sewaktu bugil dan bercermin aku merasa sia-sia. Biasalah, eksperimen. Kalau tidak begitu mana bisa aku tahu. Setidaknya aku jadi mengerti apa yang tidak mungkin ku raih. Radiohead bisa saja datang ke Indonesia, tapi ada hal-hal yang akan aku tutup kemungkinannya. Ku tutup ruang mimpi itu dan ku buka lebar-lebar pintu di ruangan lainnya. Mungkin bukan sebuah "kebenaran" karena ku rasa rumit sekali. Namun sewaktu ku katakan ini pada diriku sendiri, ulang tahun ke 24 rasanya tidak terlalu jelek.
Aku menyesal pernah punya perasaan seperti itu. Kebodohan ternyata tidak pernah bisa berhenti. Tidak memandang usia. Juga bukan tentang seberapa banyak kepahitan dalam hidup, dan kau merasa bisa mengambil sebanyak itu juga pelajaran darinya. Jenisnya mungkin berbeda-beda, tapi kebodohan tetap kebodohan. Selalu ada pemakluman untuk kebodohan, namun selalu juga ada orang lain yang berkata bahwa kau sebenarnya bisa berbuat lebih dari itu. Ini membuat kita malu. Terlebih kalau yang menunjukkan itu ternyata orang yang lebih muda. Aku melihatnya di wajah mereka. Sungguh menyakitkan karena sekarang giliran mereka yang berkata “harap maklum” tentang kita pada diri mereka sendiri dan teman-temannya. Mungkin mereka tidak protes karena menunggu aku masuk lubang hitam dan tidak muncul lagi. Kenapa sih mereka ini? Apa mereka tidak diajari orang-tuanya tentang satu masa seseorang bisa jadi ngaco dan kurang bertanggung jawab omongan dan perbuatannya tapi sebenarnya sedang pasang ancang-ancang untuk masuk ke dunia yang lebih berat lagi? Entah akhirnya bisa jalan dengan tegap atau hanya ancang-ancang terus, itu urusan lain lagi. Yah, aku juga tidak pernah diajari seperti itu sih. Aku hanya kesal saja.
"Ku rasa kebenaran itu selalu sederhana," kata Sheriff Bell di No Country For Old Man. "Pasti begitu. Kebenaran memang harus sederhana sehingga seorang anak pun akan bisa mengerti. Jika tidak, semuanya akan terlambat. Saat kita mulai memahami semua akan terlambat." Gagah sekali kata-katanya, ya? Aku tersindir karena rasanya telah menyiakan banyak waktu untuk belajar. Tiba-tiba usiaku sudah 24 saja. Aku coba hentikan waktu dengan masker dan mulai sering pakai t-shirt supaya tak kalah saing dengan mahasiswa baru, tapi sewaktu bugil dan bercermin aku merasa sia-sia. Biasalah, eksperimen. Kalau tidak begitu mana bisa aku tahu. Setidaknya aku jadi mengerti apa yang tidak mungkin ku raih. Radiohead bisa saja datang ke Indonesia, tapi ada hal-hal yang akan aku tutup kemungkinannya. Ku tutup ruang mimpi itu dan ku buka lebar-lebar pintu di ruangan lainnya. Mungkin bukan sebuah "kebenaran" karena ku rasa rumit sekali. Namun sewaktu ku katakan ini pada diriku sendiri, ulang tahun ke 24 rasanya tidak terlalu jelek.
By: Liston Damanik

Subscribe to:
Posts (Atom)



