Saturday, January 8, 2011

aku, dingin, dan selimut merah.

dingin ini menggigiti kulit betisku
aku sembunyikan betisku di bawah selimut merah
:dingin malah mengamuk

aku biarkan dingin mengamuk
selimut merah yang menjadi dingin

dingin tertawa di dalam selimut merah
: aku semakin dingin

selimut merah aku buka
dingin aku usir keluar

aku sembunyikan lagi betisku di dalam selimut merah
: dingin menangis karena kedinginan

Friday, January 7, 2011

helaan nafas saya, Romo.

delapan helaan, Romo













I know you suffer
but I don't want you to hide




Romo, mari kita diam-diaman.
Seperti tak ada kata yang tertulis di selembar kertas kosong.
: maka apa yang akan terbaca?

Romo, mari kita diam-diaman.
Sambil saling tak peduli mengapa tak ada kata di selembar kertas kosong.
: maka untuk apa dibaca?

Romo, mari kita diam-diaman.
Setidaknya kita punya selembar kertas kosong untuk kita tulisi.
: dan anak cucu kita yang akan membacanya.

Romo, mari kita diam-diaman.



sedang mengenang masa depan, bukan masa lalu.

Rana

selanjutnya adalah Rana!

Rana itu sangat sederhana. Tidak peduli orang sudah di zaman apa, dia tetaplah Rana yang sederhana. Tolong carikan saya dia yang bernama Rana itu. Saya butuh dia. Mungkin sekarang dia sedang tercecer entah di badan jalan besar bagian mana. Beritahu saya jika sudah menemukan Rana atau rasa-rasanya bertemu atau melihat Rana. Saya tunggu.


Klik!