Wednesday, December 1, 2010

selain MENGERTI tentangmu, masih adakah yang LAIN yang bisa saya berikan? (bagian 1)


Ya, mengerti tentangmu.
Tidak mudah untuk beradaptasi dengan kata "mengerti", apalagi itu tentang kamu. Saya yakin kamu pasti sudah tidur sekarang. Mengingat apa yang kamu katakan bahwa akhir-akhir ini kamu sudah sering cepat tidur. Itu bagus untuk kamu. Tapi, saya yang tidak bisa tidur akhir-akhir ini. Daripada saya guling-guling sana-sini tanpa penjelasan di atas tempat tidur, lebih baik saya menulis ini. Menulis tentang kamu.

Apa yang kamu pikirkan tentang saya akhir-akhir ini? Sesuatu yang lain kah? Kalau saya yang jawab, saya akan mengatakan kalau saya memang sedikit lain. Saya sudah bisa menerima hal-hal yang saya inginkan dari kamu tapi tidak bisa kamu penuhi. Dan, saya sudah tidak cemburu lagi karena saya percaya dengan kamu.

Saya mengerti kamu.
Mengerti kamu dan mengerti kamu.

Selain mengerti tentangmu, masih adakah yang lain yang bisa saya berikan? Jika ada, katakan saja. Saya hanya bisa tertawa. Tertawa karena mengapa tidak dari dulu saja saya langsung bisa mengerti kamu. Tapi, hidup punya cerita tersendiri agar manusia bisa merasakan apa itu maknanya "membekas". Saya ingin ada yang membekas pada diri saya. Dan proses yang selama ini saya jalani hampir dua tahun ini, yang sudah menjadi konflik di antara kita, yang selalu menjadi ketakutan bagi saya, yang selalu.....yang selalu......dan yang selalu....., menjadi bekas bagi saya sampai kapan pun.

Saya sangat berterima kasih kepada kamu karena kamu punya kekuatan untuk bersabar menghadapi saya di saat orang-orang lain langsung memilih meninggalkan saya karena segala kekurangan saya. Apalagi yang bisa saya lakukan selain mengerti akan dirimu?

Sekarang, saya merasa--mungkin kamu juga begitu--lepas bebas untuk bercerita tentang orang-orang yang pernah singgah dalam hidup kita. Bukan seperti dulu saat kamu begitu tidak mengerti harus bersikap dan berkata apa jika salah satu di antara mereka yang pernah mengisi hidupmu tiba-tiba hadir kembali di saat saya sudah menjadi bagian dari hidupmu. Saya mengerti saat itu pasti tidak ada sedikit pun keinginanmu untuk menyembunyikan masa lalu dari saya. Kamu hanya ingin menjaga perasaan saya karena saya adalah perempuan pecemburu (buta).

Saya sangat menikmati pembicaraan kita tadi. Sungguh tanpa rasa cemburu. Yang ada hanya bahagia karena tidak ada rasa terpaksa untuk bercerita. Saya berharap ini bisa saya pertahankan. Begitu juga kamu jika saja tiba-tiba justru kamu yang menjadi pecemburu. Tapi, saya yakin kamu tidak seperti itu karena kamu percaya saya.

Kita sibuk. Sibuk dengan dunia masing-masing dan saya sudah mengerti. Pilihan saya untuk membiarkan kamu larut dengan duniamu adalah tepat. Sekali lagi saya katakan, saya sudah mengerti.

Katamu: Jalani saja!


--Saya ingin membekas dan ingin selalu..

Masih Ada UTANG dengan KOMPAS (bagian 2)


Hoaaahhhh...
Saya memang pecinta media KOMPAS. Tapi, entah mengapa sepertinya untuk saat ini saya ingin berhenti berlangganan KOMPAS dulu. Tanggal 19 Desember 2010 ini tepat saya delapan bulan berlangganan. Setelah itu saya ingin off dulu. Alasannya? Ya, pasti ada alasan.


1. Dari awal saya ingin berlangganan KOMPAS karena ingin membuat kliping rubrik CerPen-nya saja. Beberapa waktu lalu saya ketemu satu blog yang isinya CerPen dari KOMPAS sejak dari April 2003. Alamatnya http://cerpenkompas.wordpress.com/ ada di list blog saya. Saya ternganga saat mendapatkannya. Hahahaha.... Jadi, saya ingin berhenti berlangganan dulu.

2. Otomatis rubrik-rubrik yang lain pun ingin saya kliping juga. Mau tak mau saya harus sabar setiap membuka lembar demi lembar KOMPAS agar tidak ada yang terlewatkan. Dan semua itu butuh waktu (pembenaran dari rasa malas saya, hahahaha...) yang akhirnya membuat KOMPAS yang belum dibolak-balik menjadi menumpuk di kamar saya dan saya.....aarrrrggghhhh.....malas melihatnya!! Padahal saya yang malas, hehehe... Karena itu saya ingin berhenti berlangganan dulu.

3. Saya terkesan sibuk. Buktinya saya hampir tidak ada waktu untuk membolak-balik KOMPAS dengan pebuh konsentrasi layaknya bapak-bapak yang setiap pagi bisa menghabiskan waktunya di teras untuk membaca koran sambil merokok dengan ditemani secangkir kopi. Owwwhhhh...saya tidak ada waktu. Terlalu banyak pekerjaan seorang perempuan yang sudah menunggu di dalam rumah untuk segera dikerjakan. Makanya saya ingin berhenti berlangganan dulu.

4. Biaya berlangganannya memang lebih murah dibandingkan untuk yang umum. Saya ambil kategori untuk golongan akademis makanya bisa dapat Rp.50.000,- per bulan untuk berlangganan. Tapi, dengan kondisi saya yang sudah saya jelaskan di poin 1, 2 dan 3, sepertinya saya harus mikir-mikir lagi deh untuk berlangganan. Setidaknya bulan depan uang Rp.50.000,- nya bisa saya simpan untuk keperluan yang lain. Oleh karena itu, wajar-wajar saja saya ingin berhenti berlangganan dulu.


Huuufffttt... Nanti saya hubungi distributornya (Bang Erick). Kira-kira tanggal 18 Desember 2010 saja saya telpon beliau.

Best I Ever Had (Grey Sky Morning)


So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I'm here to stay
Love can be so boring

Nothing's quite the same now
I just say your name now

[Chorus]
But it's not so bad
You're only the best I ever had
You don't want me back
You're just the best I ever had

So you stole my world
Now I'm just a phony
Remembering the girl
Leaves me down and lonely

Send it in a letter
Make yourself feel better

[Chorus]
But it's not so bad
You're only the best I ever had
You don't need me back
You're just the best I ever had

And it may take some time to
Patch me up inside
But I can't take it so I
Run away and hide
And I may find in time that
You were always right
You're always right

So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I'm here to stay
Love can be so boring

What was it you wanted
Could it be I'm haunted

[Chorus]
But it's not so bad
You're only the best I ever had
I don't want you back
You're just the best I ever had
The best I ever had
The best I ever





By: Vertical Horizon



Lagu ini cuma ingat intronya aja. Setelah dicari dan dicari seperti apa nadanya, dan akhirnya bisa ditemukan oleh Romo. Saya senaaaaannnggggg!!!!
Lama-lama, aktifitas menebak lagu-lagu yang saya tidak tau nama penyanyi dan judulnya, tapi hanya tau nadanya saja, menjadi keasyikan tersendiri bagi saya dan Romo. Ada kepuasan yang hampir-hampir terpuaskan, hahahaha...
Saya masih menunggu otak saya untuk mencari lagi kira-kira lagu apa yang harus kami tebak hingga mengharuskan kami untuk menelusuri winamp Romo dengan lebih dari sepuluh ribu lagu itu, wwwuuuuiiihhhh...